Arti dan Hukum Tabarruj (Berhias Yang Dilarang)

Berhias merupakan sesuatu yang wajar dilakukan oleh manusia, apalagi jika ia seorang wanita. Tentunya ia ingin nampak dan tampil memikat dengan menampakkan perhiasannya. Misal berdandan atau bersolek dengan tidak seperti biasanya; memakai bedak tebal, eye shadow, lipstik dengan warna mencolok dan merangsang, dan lain sebagainya. Tindakan-tindakan semacam ini termasuk dalam kategori yang disebut dengan tabarruj.

ARTI TABARRUJ DAN PENJABARANNYA

Secara bahasa tabarruj berarti menampakkan perhiasan terhadap orang-orang asing (yang bukan mahram).[an-Nihâyatu fi Garîbil-Hadîtsi wal-Atsar, 1/289 dan al-Qâmûshul-Muhîth, hlm. 231]

Imam asy-Syaukani berkata, “At-Tabarruj adalah seorang wanita menampakkan sebagian dari perhiasan dan kecantikannya yang (seharusnya) wajib untuk ditutupinya, yang ini dapat memancing syahwat (hasrat) laki-laki”.[Fathul-Qadîr, 4/395]

Syaikh ‘Abdur-Rahmân as-Sa’di rahimahullah ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “Arti ayat ini, janganlah kalian (wahai para wanita) sering keluar rumah dengan berhias atau memakai wewangian, sebagaimana kebiasaan wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu, mereka tidak memiliki pengetahuan (agama) dan iman. Semua ini untuk mencegah keburukan (bagi kaum wanita) dan penyebab-penyebabnya”.[Taisîrul-Karîmir-Rahmân, hlm. 663]

Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata, “Ketika Allâh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum perempuan untuk menetap di rumah-rumah mereka, maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala melarang mereka dari (perbuatan) tabarruj wanita-wanita Jahiliyah, (yaitu) dengan sering keluar rumah atau keluar rumah dengan berhias, memakai wewangian, menampakkan wajah serta memperlihatkan kecantikan dan perhiasan mereka yang Allâh Azza wa Jalla perintahkan untuk disembunyikan.

Tabarruj (secara bahasa) diambil dari (kata) al-burj (bintang, sesuatu yang terang dan tampak), di antara (makna)nya adalah berlebihan dalam menampakkan perhiasan dan kecantikan, seperti kepala, wajah, leher, dada, lengan, betis dan anggota tubuh lainnya, atau menampakkan perhiasan tambahan.

Hal ini dikarenakan seringnya (para wanita) keluar rumah atau keluar dengan menampakkan (perhiasan dan kecantikan mereka) akan menimbulkan fitnah dan kerusakan yang besar (bagi diri mereka dan masyarakat)”[Hirâsatul-Fadhîlah, hlm. 44-45] .

Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa penjabaran makna tabarruj meliputi dua hal.

1. Pertama : Seringnya seorang wanita keluar rumah, karena ini merupakan sebab terjadinya fitnah dan kerusakan.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya wanita adalah aurat, maka jika dia keluar (rumah) setan akan mengikutinya (menghiasainya agar menjadi fitnah bagi laki-laki), dan keadaanya yang paling dekat dengan Rabbnya (Allâh Subhanahu wa Ta’ala ) adalah ketika ia berada di dalam rumahnya”.[HR Ibnu Khuzaimah, no. 1685; Ibnu Hibban, no. 5599; dan at-Thabrani dalam al-Mu'jamul-Ausath, no. 2890; dinyatakan shahîh oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Mundziri]

Imam al-Qurthubi rahimahullah, ketika menafsirkan ayat di atas berkata: “Makna ayat ini adalah perintah (bagi kaum perempuan) untuk menetap di rumah-rumah mereka. Meskipun (asalnya) ini ditujukan kepada isteri-isteri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , akan tetapi secara makna (wanita-wanita) selain mereka (juga) termasuk dalam perintah tersebut. Ini seandainya tidak ada dalil yang khusus (mencakup) semua wanita. Padahal (dalil-dalil dalam) syariat Islam penuh dengan (perintah) bagi kaum wanita untuk menetap di rumah-rumah mereka dan tidak keluar rumah kecuali karena darurat (terpaksa)”.[Al-Jâmi’ li Ahkâmil-Qur'ân, 14/174]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Sungguh Allâh telah mengijinkan kalian (para wanita) untuk keluar (rumah) jika (ada) keperluan kalian (yang dibolehkan dalam syariat).[Al-Fatâwa al-Imârâtiyyah]

Bahkan menetapnya wanita di rumah merupakan ‘azîmatun syar’iyyah (hukum asal yang dikuatkan dalam syariat Islam), sehingga diperbolehkannya mereka keluar rumah merupakan rukhshah (keringanan) yang hanya diperbolehkan dalam keadaan darurat atau jika ada keperluan. Oleh karena itulah, Allâh Subhanahu wa Ta’ala dalam tiga ayat al-Qur’ân [Surat al-Ahzâb ayat 33, 34 dan Surat ath-Thalâq ayat 1] menisbatkan (menggandengkan) rumah-rumah kepada para wanita, padahal jelas rumah-rumah yang mereka tempati adalah milik para suami atau wali mereka. Ini semua menunjukkan, bahwa selalu menetap dan berada di rumah adalah keadaan yang sesuai dan pantas bagi mereka.[Hirâsatul Fadhîlah, hlm. 87]

2. Kedua : Keluar rumah dengan menampakkan kecantikan dan perhiasan yang seharusnya disembunyikan di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya.

Syaikh ‘Abdul-‘Aziz bin Bâz rahimahullah berkata, “Allâh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum perempuan untuk menetap di rumah-rumah mereka dan melarang mereka dari perbuatan tabarruj (ala) jahiliyyah, yaitu menampakkan perhiasan dan kecantikan, seperti kepala, wajah, leher, dada, lengan, betis dan perhiasan (keindahan wanita) lainnya, karena ini akan (menimbulkan) fitnah dan kerusakan yang besar, serta mengundang diri kaum lelaki untuk melakukan sebab-sebab (yang membawa kepada) perbuatan zina…”[At-Tabarruju wa Khatharuhu, hlm. 6-7]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum wanita untuk menyembunyikan perhiasan dan kecantikan mereka dalam firman-Nya :

وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ

"Dan janganlah mereka (para wanita) memukulkan kaki mereka agar orang mengetahui perhiasan yang mereka sembunyikan. [an-Nûr/24: 31].
Perhiasan yang dilarang untuk dinampakkan dalam ayat ini mencakup semua jenis perhiasan, baik yang berupa anggota badan maupun perhiasan tambahan yang menghiasi fisik mereka.

[Sumber: majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XVI/1434H/2013.]

0 Response to "Arti dan Hukum Tabarruj (Berhias Yang Dilarang)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel